Informasi Dasar dan Kondisi Umum

Visi Kabupaten

Terwujudnya Masyarakat Kabupaten Sintang yang Cerdas, Sehat, Maju, Religius, Sejahtera yang didukung Penetapan Tata Kelola Pemerintah yang Baik dan Bersih pada tahun 2021

Kabupaten Sintang merupakan Kabupaten yang memiliki luas wilayah ketiga terbesar di Provinsi Kalimantan Barat setelah Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kapuas Hulu. Terletak di bagian timur di Provinsi Kalimantan Barat yang dilalui oleh garis Khatulistiwa, terletak di antara 1o05’ Lintang Utara dan 0o46’ Lintang Selatan serta 110o50’ Bujur Timur dan 113o20’ Bujur Timur.

Secara geografis batas administrasi Kabupaten Sintang letaknya strategis di persimpangan yang menghubungkan dengan batas-batas wilayah Kabupaten, Propinsi dan negara tetangga Malaysia, yang berarti juga penghubung pertumbuhan ekonomi kawasan regional, nasional dan internasional. Di sebelah utara Sintang berbatasan dengan Serawak, Malaysia, dan Kabupaten Kapuas Hulu. Di sebelah selatan berbatasan dengan Provinsi Kalimantan Tengah dan Kabupaten Melawi, serta Kabupaten Ketapang. Di sebelah Timur: berbatasan dengan Provinsi Kalimantan Tengah dan Kabupaten Kapuas Hulu, dan di sebelah Barat: berbatasan dengan Kabupaten Melawi, Sanggau dan Sekadau.Wilayah Kabupaten Sintang yang berbatasan langsung dengan Negara Malaysia adalah di Kecamatan Ketungau Hulu dan Ketungau Tengah.

Pusat ibu kotanya Sintang, berjarak dengan Ibukota Provinsi, Pontianak kurang lebih 395 Km. Luas Kabupaten Sintang yaitu 21.635 Km2, secara administratif terbagi menjadi 14 Kecamatan, 6 Kelurahan dan 407 Desa. Kecamatan Ambalau adalah yang terluas yaitu 29,52 % dari luas Kabupaten Sintang atau seluas kurang lebih 6.386,40 Km2. Luas masing-masing Kecamatan lainnya hanya 1-9 % dari luas Kabupaten Sintang, sedangkan Kecamatan Sintang memiliki wilayah terkecil seluas hanya 277,05 Km2 (1,28 %). Lebih dari separuh wilayah Kabupaten Sintang (62,74%) berada pada wilayah perbukitan kurang lebih seluas 13.573,75 Km2. Berhutan tropis dengan curah hujan yang cukup tinggi yaitu rata-rata hari hujan sebanyak 20 hari perbulan. Kabupaten Sintang dilalui oleh 2 sungai besar yaitu Sungai Kapuas dan Sungai Melawi, selain sungai juga terdapatpegunungan yang cukup tinggi yaitu Gunung Batu Raya (1.270 M), Gunung Batu Baluran (1.556 M) dan Gunung Batu Sambung (1.770 M) di Kecamatan Ambalau. Memiliki sumber daya hayati yang cukup berlimpah, ekosistem hutan di Kabupaten Sintang meliputi hutan hujan tropis dan hutan rawa gambut. Sedikitnya telah diidentifikasi 817 jenis tumbuhan, dimana 5 diantaranya merupakan flora dilindungi seperti pohon berkayu bengkirai, ulin dan tengkawang serta lebih dari 350 jenis tanaman obat di kawasan hutan dan Taman Nasional Bukit Baka-Bukit Raya yang membentang di Provinsi Kalbar dan Kalteng. Menurut survey LIPI, 1994 kekayaan jenis satwa telah dikenali, 357 species dari 154 marga berada di Taman Nasional. Survey Himakova IPB, 2008 mendata 65 jenis mamalia, 140 jenis burung, 9 jenis reptil dan 7 jenis amfibia.

Visi Kabupaten Sintang adalah “Terwujudnya masyarakat Kabupaten Sintang yang cerdas, sehat, maju, religius, sejahtera yang didukung penerapan tata kelola pemerintahan yang baik dan bersih pada tahun 2021”.

Pewujudan visi kabupaten itu nampaknya telah menjadi tekad Pemkab untuk merealisasikannya dalam pertumbuhan ekonomi dan pembangunan yang terus meningkat. Struktur perekonomian Kabupaten Sintang dalam lima tahun terakhir masih didominasi oleh tiga sektor ekonomi yaitu sektor pertanian, sektor perdagangan, hotel dan restoran serta sektor industri SDM. Dalam 4 tahun terakhir telah terjadi pergeseran struktur ekonomi Kabupaten Sintang, dimana kontribusi sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan cenderung menurun dan sebaliknya kontribusi sektor Pertambangan dan Penggalian, sektor Konstruksi, sektor Transportasi dan Pergudangan, dan sektor Jasa Keuangan dan asuransi cenderung mengalami kenaikan. Data menunjukkan kontribusi sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan menurun dari sekitar 30,92% pada tahun 2010 menjadi hanya 25,97% pada tahun 2014, sebaliknya kontribusi sektor Pertambangan dan Penggalian, dan sektor Konstruksi meningkat masing-masing dari sekitar 6,85% dan 8,79% pada tahun 2010 menjadi masing-masing sekitar 8,07% dan 12,10% pada tahun 2013.

Berdasarkan data BPS, 2016 pertumbuhan ekonomi Kabupaten Sintang secara ril yang diikuti dengan perubahan harga yang cepat pada sektor ekonomi mengakibatkan struktur perekonomian mengalami perubahan. Struktur perekonomian Kabupaten Sintang Tahun 2016 didominasi tiga (3) ekonomi : Pertanian, Perdagangan dan Konstruksi.

Pada Tahun 2016, kategori pertanian memberi kontribusi terbesar yaitu 23,46 %, perdagangan sebesar 17,69 % dan konstruksi sebesar 13,88 %, sedangkan sektor yang paling kecil sumbangannya yaitu pengadaan listrik dan gas sebesar 0,02 %.

Dalam 5 tahun terakhir ini PDRB Perkapita Kabupaten Sintang terus mengalami kenaikan, dari sekitar Rp 19,5 juta pada tahun 2010 menjadi sekitar Rp 28 juta pada tahun 2014. Peningkatan ini disebabkan oleh, keberhasilan daerah dalam meningkatkan PDRB dan mengendalikan laju pertumbuhan penduduk. Hasil ini juga menunjukkan upaya pemerataan kesejahteraan yang dilakukan Pemkab Sintang. Data BPS menunjukkan bahwa Indeks GINI Ratio Kabupaten Sintang. Pemerataan pendapatan terjadi jika angka GINI Ratio mendekati angka “ 0 “.

GINI Ratio Sintang : Tahun 2013 (0,320), Tahun 2014 (0,318), Tahun 2015 (0,275), Tahun 2016 (0,295) dan Tahun 2017 (0,302).