Informasi Dasar dan Kondisi Umum

Visi Kabupaten

Terwujudnya Kabupaten Siak Yang Maju dan Sejahtera dalam Lingkungan Masyarakat yang Agamis dan Berbudaya Melayu serta Menjadi Tujuan Pariwisata di Sumatera

Siak dahulu adalah bagian dari Kabupaten Bengkalis, Sejak 1999 di tetapkan melalui UU 53/1999 menjadi Kabupaten Siak yang memiliki wilayah seluas kurang lebih 855.609 ha. Secara geografis Kabupaten Siak terletak pada koordinat 10 16’ 30” – 00 20’ 49” Lintang Utara dan 100 54’ 21” 102° 10’ 59” Bujur Timur.

Pusat ibukota kabupaten dan pemerintahan adalah Siak Sri Indrapura yang mengemban visi “Terwujudnya Kabupaten Siak Yang Maju dan Sejahtera dalam Lingkungan Masyarakat yang Agamis dan Berbudaya Melayu serta Menjadi Tujuan Pariwisata di Sumatera” sebagaimana tercantum dalam RPJMD 2005-2025.

Kabupaten Siak berbatasan dengan kabupaten lain yang mengelilinginya. Di Utara dengan Kabupaten Bengkalis, di Selatan Kabupaten Kampar, Pelalawan dan Kota Pekanbaru, di Timur Kabupaten Pelalawan dan Kabupaten Kepulauan Meranti dan di Barat Kabupaten Bengkalis, Rohul Pelalawan, Kampar dan Pekanbaru, menjadikan posisinya strategis dalam hubungan antar kabupaten dan sekaligus menantang dalam pengelolaan bentang alamnya dari dampak pembangunan kabupaten disekelilingnya.

Perekonomian Siak di topang oleh industri perkebunan, industri pulp and paper dan konsesi hutannya, sektor migas serta sektor pertanian. Pendapatan daerah pada 2017 mencapai Rp.348,6 Milyar. Kabupaten Siak didukung oleh pemerintahan 14 kecamatan yang mengurus hajat hidup masyarakat yang mendiami 113 kampung, 8 kampung adat dan 9 kelurahan. Sensus penduduk 2010 mencatat populasi penduduk sebanyak 377.200 jiwa dengan laju pertumbuhan pada 2000-2010 sekitar 4,29 persen/tahun, kini 2017 populasi penduduk mendekati 415.128 jiwa.

Bentang alam Kabupaten Siak sebagian besar terdiri dari dataran rendah di bagian Timur dan sebagian dataran tinggi di bagian Barat. Umumnya struktur tanah dengan variasi tanah podsolik merah kuning dan batuan, aluvial serta tanah organosol dan gley humus dalam bentuk rawa dan tanah basah. Beriklim tropis dengan rerata suhu udara 25-32 derajat celcius dengan kelembaban dan curah hujan cukup tinggi. Sungai Siak yang membelah Kabupaten Siak merupakan sungai yang dalam dan sekaligus menjadikannya sebagai sarana transportasi dan penghubung berbagai kegiatan ekonomis. Beberapa sungai lainnya seperti mandau, gasib, apit, buantan limau dan bayam dan sedikitnya 8 danau merupakan potensi perairan dan sumber perikanan yang tersebar menambah elok bentang alam Siak.

Kawasan hutan di Kabupaten Siak mencapai 660.927,09 ha atau 77,23% dari luas wilayah Kabupaten Siak. Sementara untuk luas kawasan bergambut di Kabupaten Siak mencapai 735.835 ha atau 85,98 % dari luas total wilayah Kabupaten. Gambut di Kabupaten Siak merupakan jenis yang rentan terhadap kerusakan, berada tersebar di 9 dari 14 kecamatan yang ada. Ancaman pada sektor hutan dan lahan gambut mulai dari kebakaran lahan dan hutan, perambahan dan illegal logging, perburuan satwa, perubahan peruntukan lahan hingga pencemaran air dan udara serta masalah persampahan, merupakan persoalan kritis dan

serius untuk diatasi. Kabut asap dan kebakaran lahan tercatat 469 kejadian di 2014 dan 389 kejadian di 2015; kualitas air sungai siak yang menurun dan dampak pembuatan limbah industri, dan rumah tangga masih terjadi di sempadan sungai.

Kawasan konsevasi di kabupaten Siak sangat beragam pada tingkat luas dan pengelolaannya, seperti Cagar Biofer Giam Siak Kecil dengan zona inti seluas 62.470 ha di Sei Mandau, Taman Nasional Zamrud (31.480 ha) di Dayun, Suaka Margasatwa Tasik Belat (2.529 ha) di Sei Apit dan Taman Hutan Raya Sultan Syarif Hasyim (6.172 ha) di Minas. Kekayaan biodiversitas tercatat di GSK ini meliputi fauna penting seperti harimau sumatra, gajah, beruang madu, berbagai burung seperti rangkong, raja udang, reptil dan jenis amfibi hidup liar di kekayaan flora di hutan-hutan berbagai jenis pohon kayu seperti Ramin, Keruing, Meranti, Suntai, Punak, Kempas, dan lainnya termasuk berbagai jenis tumbuhan lumut, paku dan semak, merupakan potensi kekayaan alam bagi Kabupaten Siak.

Kabupaten Siak juga memiliki kawasan pesisir pantai yang berdekatan dengan sejumlah negara tetangga dan masuk ke dalam daerah segitiga pertumbuhan (growth triangle) Indonesia – Malaysia – Singapura.
Pada 1990 Riau memiliki kurang lebih 261.285 ha mangrove di bibir pantai atau wilayah pesisir. Ekosistem mangrove di desa Mengkapan, kecamatan sungai apit memiliki luas 1.346,32 km2 merupakan salah satu lokasi hutan mangrove di kabupaten Siak. Sejak Agustus 2015, ekosistem mangrove desa Mengkapan ini diresmikan menjadi destinasi ekowisata hutan mangrove. Penelitian mahasiswa UNRI, 2017 melaporkan terdapat 10 species struktur komunitas mangrove di pesisir Mengkapan ini yang didominasi oleh species Rhizophora apiculata Xylocarpus granatum, R. mucronata, Bruguiera gymnorrhiza, Avicennia rumphiana, A. marina, Nypa fructicans, Pandanus tectorius.