Informasi Dasar dan Kondisi Umum

Visi Kabupaten

Mewujudkan Penguatan Ekonomi kerakyatan, Religius, Mandiri, Adil dan Terdepan Maju Bersama

Kabupaten Musi Banyuasin (MUBA) merupakan salah satu kabupaten di Sumatera Selatan yang dilintasi Sungai Musi, dan sungai-sungai lainnya, memiliki keragaman ekosistem mulai dari hutan rawa gambut yang sangat luas, hutan rawa air tawar, bakau, hutan hujan dataran rendah, termasuk ekosistem buatan seperti perkebunan kelapa sawit dan kebun-kebun rakyat. Posisinya di jantung provinsi Sumsel, alamnya membentang berbatasan dengan Kabupaten Muaro Jambi dan Batanghari provinsi Jambi di sebelah Utara. Di sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir, di sebelah Barat dengan Kabupaten Musi Rawas dan di sebelah Timur dengan Kabupaten Banyuasin.

Secara geografis Kabupaten MUBA terletak antara 1,3° sampai dengan 4° Lintang Selatan dan 103° sampai dengan 104° 45’ Bujur Timur, bertopografi mulai dari dataran rendah menyusuri pinggiran aliran sungai Musi, tanahnya berawa dan payau dipengaruhi pasang surut dan mengalir banyak sungai baik besar dan kecil seperti Sungai Batanghari Leko, Sungai Lalan, Sungai Calik, Sungai Dawas, Sungai Supat, Sungai Tungkal yang menjadi bagian dari sekitar 20-an DAS yang mengaliri Kabupaten ini. Di daerah lainnya, dataran tinggi dan berbukit-bukit dengan ketinggian antara 20 sampai dengan 140 meter di atas permukaan laut.

Memiliki luas wilayah 1.426.596 ha atau sekitar 15% dari luas Propinsi Sumatera Selatan, kawasan hutannya meliputi luas 714.440 ha (50,43 %) dan kawasan bergambut mencapai 274.207,50 ha (25 %) dari luas seluruh wilayah kabupaten MUBA. Berikilim tropis basah Kabupaten MUBA dengan potensi kekayaan alam dan keanekragaman ekosistem, flora dan faunanya merupakan “permata alam” Sumatera Selatan. Species karismatik Sumatera seperti Gajah, Harimau Sumatera,dan jenis lainnya seperti tapir, beruang madu, macan dahan, siamang, kukang dan burung rangkong masih bisa dijumpai di berbagai Suaka Margasatwa (SM Bentayan luas19.300ha; SM Dangku luas 31.752 ha), lanskap KPH Meranti, KPHP Lalan- Mangsang-Mendis dan kawasan Restorasi Ekosistem yang 51.000 ha berada di wilayah Kabupaten MUBA. Beberapa jenis kayu yang terancam di Kabupaten Musi Banyuasin antara lain : Kayu Merawan (Hopeamengerawan), Kayu Meranti Bunga (Shorealeprosula), Kayu Mersawa (Anisoteramarginata).

Pusat Kabupaten MUBA beribukota di Sekayu, 4 jam perjalanan dari Palembang, terbagi menjadi 14 kecamatan dan 240 desa/kelurahan. Kecamatan Lalan memiliki desa terbanyak berjumlah 27 desa. Kecamatan Bayung Lencir memiliki wilayah terluas 4.847 Km2 atau sekitar 33,98 % dari luas wilayah Kabupaten Musi Banyuasin. Sebaliknya Kecamatan Lawang Wetan adalah wilayah yang hanya memiliki luas 232 Km2 (1,63 %).

Memiliki motto Serasan Sekate yang berarti masyarakat hidup rukun memegang teguh azas musyawarah untuk mufakat menjiwai semangat gotong royong, dirumuskan oleh Pemkab MUBA dalam visi “Mewujudkan Penguatan Ekonomi kerakyatan, Religius, Mandiri, Adil dan Terdepan Maju Bersama” atau secara inspiratif di singkat PERMATA MUBA.

Ekonomi Kabupaten MUBA ditopang oleh sumber kekayaan alamnya, sektor pertanian/perkebunan, pertambangan dan industri pengolahan termasuk sumber daya mineral memberikan kontribusi bagi pendapatan daerah. Pendapatan daerah MUBA pada 2013 mencapai Rp. 96,7 Milyar. Nilai PDRB Kabupaten Musi Banyuasin tahun 2010 sebesar Rp. 31.753,92 milyar meningkat menjadi Rp. 55.408,95 milyar pada tahun 2016. Kenaikan cukup besar itu dipicu peningkatan nilai tambah dari kegiatan primer pertambangan dan penggalian serta industri pengolahan. Sementara Nilai PDRB yang dihitung atas dasar harga konstan tahun 2010 juga terus meningkat dari Rp. 31.753,92 milyar pada tahun 2010 menjadi Rp. 40.225,89 milyar pada tahun 2016, hal itu dipicu peningkatan sektor pertanian, pertambangan dan industri pengolahan.

Pertumbuhan ekonomi Musi Banyuasin dengan migas tahun 2015 tumbuh rata- rata sebesar 2,28% menurun dari tahun sebelumnya sebesar 4,67%. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi MUBA tanpa migas pada tahun 2015 tumbuh sebesar 4,94 persen. Indeks GINI ratio Kabupaten MUBA pada 2015 berada pada 0,287 menandakan masih terjadi kesenjangan distribusi kekayaan. Presentase penduduk miskin, menurut BPS 2013, dalam periode 5 tahun dari 2009-2013 menunjukkan penurunan dari 22,76% menjadi 18,02%.