TOPIK PRIORITAS

Dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan, pemerintah kabupaten anggota LTKL telah mengidentifikasi dan memilih topik yang sesuai dengan kondisi di daerahnya. Ada 5 topik prioritas yang dipilih dengan penerapan yang disesuaikan kembali di masing-masing kabupaten.


Perhutanan Sosial & Reforma Agraria

Program Reforma Agraria dan Perhutanan Sosial merupakan program terobosan Pemerintah yang semakin banyak diminati oleh masyarakat di kabupaten. Hak pengelolaan lahan sekitar mereka yang disesuaikan dengan kearifan lokal dari leluhur diharapkan bisa menjawab tantangan ekonomi serta ekologi.

Adanya pembagian ulang hak kelola lahan kepada masyarakat, yang umumnya dari perusahaan, juga menjadi salah satu pilihan dalam mengatasi masalah tata kelola lahan. Kedua program nasional tersebut dilihat oleh pemerintah kabupaten sebagai komitmen serius pemerintah pusat.

Program nasional yang harapannya membantu pemerataan ekonomi dan mengurangi ketimpangan ekonomi ini setidaknya akan menyentuh tiga pilar yang membantu usaha pencapaian visi Kabupaten Lestari. Diantaranya tata kelola lahan, kesempatan usaha, dan peningkatan sumber daya manusia.

Kabupaten Anggota LTKL yang berkomitmen


Energi Bersih dan Elektrifikasi

Indonesia memilki potensi energi terbarukan yang melimpah, namun pemanfaatnnya masih sangat minim. Melalui topik prioritas energi bersih dan elektrifikasi, harapannya kabupaten anggota LTKL bisa memaksimalkan pemanfaatan potensi tersebut bersama dengan mitra pembangunan dengan pembangunan yang berbasis lokal/desa sehingga tidak ketergantungan dengan jaringan listrik dari pusat.. Pemanfaatan energi bersih juga sejalan dengan Program Indnesia Terang (PIT), program Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dalam rangka memenuhi target peningkatan rasio elektrifikasi nasional.

Kabupaten Anggota LTKL yang berkomitmen


Pencegahan Kebakaran Hutan & Lahan Gambut

Kebakaran hutan dan lahan gambut merupakan masalah serius yang harus dihadapi Indonesia setiap musim kemarau. Kebakaran hutan dan lahan sudah menjadi bencana regional dan global karena dampaknya sudah menjalar ke negara-negara tetangga. Gas-gas hasil pembakaran yang diemisikan ke atmosfer (seperti CO2) tersebut telah berpotensi menimbulkan pemanasan global.

Demi terwujudnya kabupaten yang lestari, kebakaran hutan dan lahan harus dicegah, tidak hanya sekedar dipadamkan. Kabupaten anggota LTKL yang memilih komitmen pencegahan kebakaran hutan dan lahan telah memulainya dengan berbagai program, seperti peningkatan kapasitas dan jumlah Masyarakat Peduli Api, serta pengembangan komoditas berkelanjutan yang bergantung dengan hutan sekitar.

Kabupaten Anggota LTKL yang berkomitmen


Komoditas Berkelanjutan

Konservasi, restorasi, maupun pembangunan berkelanjutan tidak akan terjadi tanpa adanya peningkatan ekonomi. Pemilihan komoditas yang memiliki nilai jual lebih atau adanya insentif harga premium dan tetap membutuhkan perlindungan alam sekitar adalah jawaban tepat. Saat ini, semakin banyak komoditas yang terbukti memiliki kualitas lebih baik apabila diselaraskan dengan penjagaan lingkungan, alam, termasuk hutan, contohnya kakao maupun kopi.

Adapun komoditas berkelanjutan yang menjadi prioritas kabupaten anggota LTKL antara lain: Kopi, Kakao, Kelapa, Sawit, Karet, Rempah dan Hasil Hutan Bukan Kayu. Kabupaten anggota LTKL telah menyadari pentingnya pengembangan atau memprioritaskan komoditas yang membawa keberlanjutan. Insentif harga premium maupun subsidi bagi komoditas ramah lingkungan adalah sebagian program yang mulai dijalankan.

Kabupaten Anggota LTKL yang berkomitmen


Konservasi dan Restorasi

Pada tahun 2010, Pemerintah Indonesia mencanangkan target penurunan emisi GRK sebesar 26% di tahun 2020, dan sampai dengan 41% apabila terdapat dukungan internasional. Konservasi dan Restorasi merupakan salah satu upaya yang dilakukan pemerintah kabupaten untuk mencapai target tersebut. 

Dalam mendukung upaya tersebut, konservasi dan restorasi bekerja sebagai sebuah sistem untuk melindungi keanekaragaman hayati, menjaga fungsi hutan sebagai penyerap karbon, serta mengurangi dampak pencemaran yang terjadi.

Kabupaten Anggota LTKL yang berkomitmen


Pengelolaan Sampah

Persoalan pengelolaan sampah tak kunjung selesai, seiring kepadatan penduduk yang membuat konsumsi masyarakat pun semakin tinggi. Riset terbaru Sustainable Waste Indonesia (SWI) mengungkapkan sebanyak 24 persen sampah di Indonesia masih tidak terkelola. Hal ini masih menjadi pekerjaan besar bagi seluruh masyarakat Indonesia, salah satunya pemerintah kabupaten.

Program pengelolaan sampah yang diusung oleh kabupaten anggota LTKL ini sejalan dengan upaya dan hasil dalam pemenuhan target nasional yaitu pengurangan sampah 30% dan penanganan sampah 70% pada 2025; serta upaya yang mendorong penerapan sistem pengelolaan sampah secara terpadu mulai dari hulu sampai dengan hilir di setiap kabupaten. Program ini akan melibatan peran aktif masyarakat dalam peningkatan pemahaman dan kesadaran sebagai kunci perubahan perilaku. Selain itu, sistem pengelolaan sampah dengan basis sistem teruji dan data yang akurat dan terverifikasi juga menjadi kunci utama berjalannya program pengelolaan sampah yang berkelanjutan.

Kabupaten Anggota LTKL yang berkomitmen


Ketahanan dan Pengelolaan atas Bencana

Indonesia dikenal sebagai negara dengan tingkat kerawanan bencana yang cukup tinggi.  Akibat dari beragam bencana tersebut, sudah tidak terhitung kerugian baik dari segi kerusakan alam, materi maupun nyawa. Melihat ragam resiko bencana yang nyata terjadi, upaya pengelolaan kebencanaan menjadi suatu prioritas bagi Kabupaten anggota LTKL.

Perencanaan terkait pengelolaan kebencanaan ini merupakan bagian dari perencanaan pembangunan. Program ini sejalan dengan Rencana Penanggulangan Bencana oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Program dan fokus prioritas terkait pengelolaan kebencanaan ini mencakup perkuatan regulasi dan kapasitas kelembagaan, strategi penanggulangan bencana;  penelitian, pendidikan dan pelatihan serta peningkatan kapasitas dan partisipasi masyarakat.

Kabupaten Anggota LTKL yang berkomitmen