Tentang Perkebunan Sawit di Sintang dan Sanggau

Tentang Perkebunan Sawit di Sintang dan Sanggau

Dua kabupaten anggota Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL), Sintang dan Sanggau, menjadi pembicara dalam program webinar Diserbu Sawit (Diskusi Seru di Hari Rabu tentang Sawit) yang diadakan oleh Madani Berkelanjutan. Tema yang diangkat adalah tentang masa depan Kalimantan Barat di era sawit.

Berdasarkan penelitian Madani Berkelanjutan yang disampaikan oleh Erlangga (peneliti muda) Kalimantan Barat merupakan area terluas perkebunan sawit ketiga terbesar secara nasional dengan mencapai luasan 1,5 juta hektar. Namun tingkat produktivitasnya rendah, berada di peringkat kesepuluh dengan hasil 2.35 ton per hektar.

“Tingginya luasan wilayah tanam yang saat ini, produktivitasnya masih di bawah target provinsi ataupun secara komparatif dengan provinsi yang lainnya. Ini menunjukkan ada tantangan produktivitas yang juga perlu menjadi perhatian bagi pengambil kebijakan di Kalimantan Barat,” ujar Erlangga, Madani Berkelanjutan.

Berdasarkan status pembangunan desa yang terdapat perkebunan sawit di Kalbar, Kabupaten Sanggau memiliki performa terbaik dibanding empat kabupaten lainnya: Ketapang, Sintang, Landak, dan Sekadau. Hal tersebut dilihat dari persentase kemiskinan Kabupaten Sanggau sebesar 4,6 persen. Sedangkan Kabupaten Sintang di angka kemiskinan 9.6 persen, namun sudah memiliki tujuh desa mandiri.

Perkebunan sawit di Kabupaten Sintang total wilayahnya seluas 174 ribu hektar, namun Pemkab Sintang berencana untuk mengeluarkan peraturan untuk pembatasan wilayah perkebunan sawit 200 ribu hektar saja. Lahan-lahan perkebunan lainnya dialokasikan untuk komoditas lainnya, seperti teh—yang ditanam di dataran rendah, sengkubak, kakao, dan yang baru akan dimulai adalah kopi.

“Sawit yang dikelola dengan baik dan benar berkontribusi menurunkan angka kemiskinan. Misalnya dari aspek akses jalan ke desa. Karena rata-rata perkebunan sawit yang ada di Sintang lokasinya jauh dari kota,” ungkap Bupati Kabupaten Sintang, Jarot Winarno saat menjadi pembicara dalam webinar tersebut.

Bupati yang sebelumnya berprofesi sebagai dokter tersebut juga menjelaskan tentang skema Pemkab Sintang untuk kelapa berkelanjutan. Langkah-langkahnya adalah dengan melakukan proses pemetaan partisipasi, inventarisasi kawasan Nilai Konservasi Tinggi (NKT), dan penentuan lokasi kebun secara musyawarah untuk mendapatkan sertifikasi ISPO (Indonesia Sustainable Palm Oil) dan juga RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil). Hal menarik dari skema tersebut adalah petani swadaya dan koperasi perkebunan turut diberi perhatian dan porsi yang maksimal.

Sawit Berkelanjutan di Sintang dan Sanggau

Pembicara dari Kabupaten Sanggau adalah Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan, Bapak Syafriansyah. Ia bercerita tentang peranan sawit bagi perekonomian dan kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Sanggau. Perkebunan sawit menjadi sumber lapangan kerja utama yang dapat meningkatkan pendapatan, mendorong pertumbuhan ekonomi baru, terciptanya akses jalan ke desa-desa, dan kontribusi dalam Produk Domestik Bruto (PDB).

Bapak Kadis Syafriansyah juga menceritakan bagaimana Sanggau bisa terus menggeliat dalam melakukan penataan kelola perkebunan sawit. Hal tersebut karena Pemkab Sanggau telah menciptakan inisiatif dalam meminimalisir dampak sosial dan lingkungan. Antara lain dengan cara mendorong pengusaha bersikap transparan dalam kemitraan usaha dengan masyarakat; meningkatkan peran TP5K (Tim Pelaksana Pembangunan Perkebunan Pertambangan, Kehutanan, dan Pertanian Kabupaten) untuk pembinaan perusahaan, kelembagaan, serta penyelesaian konflik-konflik perkebunan lainnya; mendorong perusahaan meningkatkan program CSR terutama di bidang pendidikan; keterbukaan sistem informasi usaha perkebunan; dan bantuan bibit tanam kepada petani swadaya.

“Prioritas kegiatan perkebunan sawit pada 2020 di Kabupaten Sanggau, yaitu: peremajaan tanaman tua, evaluasi terhadap perizinan usaha perkebunan, penyelesaian konflik, dan pendaftaran kebun masyarakat/perorangan,” ujar Syafriansyah, Kadis Perkebunan dan Peternakan. “Kuncinya adalah tata kelola yang baik dan kami terus berusaha memperbaiki,” lanjutnya.