Kesiapan Kabupaten Gorontalo Menghadapi New Normal

Kesiapan Kabupaten Gorontalo Menghadapi New Normal

Bupati Gorontalo, Nelson Pomalingo memaparkan kesiapan Kabupaten Gorontalo menjalankan tatanan normal baru dalam diskusi webinar bertajuk "The New Normal di era COVID-19: Bagaimana Kesiapan Daerah?" yang diadakan oleh Collaborative Australia-Indonesia Program on Sustainable Development and Climate Change (CAIPSDCC) pada 04/05 lalu.

Bupati Nelson Pomalingo menjelaskan dampak yang dirasa di Kabupaten Gorontalo. Pada aspek sosial terutama di bidang pendidikan dan aktivitas keagamaan terganggu. Aspek ekonomi juga terdampak, terlihat dari menurunnya pendapatan masyarakat, meningkatnya jumlah pengangguran, dan terganggunya aktivitas produksi dan distribusi. Namun di awal pandemi ini Kabupaten Gorontalo terbantu oleh agroindustri.

“Upaya Pemerintah Kabupaten Gorontalo dalam penanganan pandemi Covid-19 ini adalah membentuk GTPPC19 dan Satgas Khusus yang fokus pada aspek kesehatan, ekonomi, sosial budaya, serta kajian data dan informasi. Lalu kami juga membuat roadmap penanganan Covid-19. Salah satunya menekankan aksi partisipatif melalui Pengetatan Sosial Berbasis Desa (PSBD) yang dimulai sejak awal. Kalau Desa kuat, maka kecamatan, kabupaten bahkan nasional kuat,” ujar Bupati Nelson.

Selain itu, Bupati yang pernah menjabat Rektor Universitas Muhammadiyah Gorontalo periode 2012—2016, menjelaskan Aksi Pentahelix yang menjadi strategi gotong royong penanganan pandemi antar pemerintah kabupaten, pemerintah provinsi, perguruan tinggi, pers, dan dunia usaha. Berdasarkan tahapan pencegahan yang menggunakan kajian data tersebut, hasilnya cukup baik. “Memang kasus positif meningkat, tapi jumlah orang dalam pengawasan dan pemantauan turun,” lanjut Bupati Nelson.

Aksi Pentahelix Kabupaten Gorontalo

Mengenai kesiapan normal baru yang dilakukan oleh pemerintah kabupaten Gorontalo adalah melalui tahapan penyusunan konsep Norma Perilaku Baru (NPB), pembuatan regulasi peraturan bupati, dan dilanjutkan dengan sosialisasi, serta simulasi di kawasan-kawasan percontohan, seperti di masjid, sekolah, pasar, dan kantor. 

Ede Surya Darmawan, Ketua Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) mengemukakan temuannya bahwa kapasitas pengujian masih rendah, serta peningkatan kasus dan kematian masih tinggi. Berdasarkan data IAKMI, jika Pembatasan Sosial Berskala Besar dilonggarkan sekarang maka pada Juli 2020 akan ada peningkatan kasus hingga 1,6 kali lipat. Alternatif solusi yang bisa kita lakukan adalah Pembatasan Sosial Skala Kecil (PSBK), atau yang seperti telah disampaikan Prof. Nelson tadi PSBD,” ujar Ede Surya Darmawan.

Dalam paparannya, Ede Surya Darmawan juga menekankan pada seruan nasional IAKMI yaitu Empat Sehat lima Sempurna Lawan COVID-19 yang berisi hidup lebih sehat, puskesmas bersama masyarakat, kemampuan pemerintah daerah, kebijakan yang berbasis sains dan data, serta protokol hidup sehat di setiap sektor kehidupan.

Dalam webinar kerja sama antar Universitas Griffith dan Universitas Indonesia ini juga menghadirkan pembicara Gita Syahrani, Kepala Sekretariat Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL). Sekretariat forum asosiasi kabupaten yang berdiri pada 2017 melakukan pemetaan di sembilan kabupaten anggota mengenai bantuan yang dibutuhkan.

“Berdasarkan pemetaan kami setidaknya ada lima kebutuhan utama yang dibutuhkan kabupaten anggota LTK, yaitu komunikasi, riset, finansial, logistik, dan pengembangan keterampilan kapasitas masyarakat. Dukungan ini yang kami rangkai dalam program Gotong Royong Lestari Lawan Covid-19,” ujar Gita Syahrani.

Indikator strategi new normal atau tatanan hidup baru di kabupaten anggota LTKL adalah: inovatif, aplikatif, gotong royong, dan juga lestari. Implementasi dari strategi new normal ini bisa dilihat di sektor dalam Lomba Inovasi Daerah Tatanan Normal Baru Produktif dan Aman Covid-19 yang diadakan oleh Kementerian Dalam Negeri, yaitu di pasar tradisional & modern, restoran, hotel, perizinan satu pintu, tempat wisata, dan transportasi umum.

“Inovasi new normal Lestari menurut kami adalah ekosistem yang terjaga di kabupaten mampu menciptakan dampak turunan pada produktivitas ekonomi, serta mampu menciptakan ketangguhan bencana alam dan non-alam seperti karhutla, banjir, dan longsor. Implementasi inovasi new normal lestari ini diterapkan secara bertahap di beberapa sektor,” ujar Gita Syahrani.

Rekaman diskusi ini dapat di simak di akun Youtube Humas FMIPA UI, klik di sini.