European Palm Oil Conference 2018: Bupati Musi Banyuasin Sampaikan Komitmennya Terkait Isu Komoditas

European Palm Oil Conference 2018: Bupati Musi Banyuasin Sampaikan Komitmennya Terkait Isu Komoditas

Madrid, 4 Oktober 2018 - Keberhasilan Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) dalam pengembangan komoditas
kelapa sawit kian menjadi sorotan banyak pihak, baik di level nasional maupun internasional. Kali ini, keberhasilan yang
dinahkodai oleh Bupati Musi Banyuasin yang juga merupakan Ketua Umum Lingkar Temu Kabupaten Lestari, Dodi Reza Alex
Noerdin tersebut mendapatkan kepercayaan untuk menjadi salah satu panelis dalam sesi ‘Partnership in SDGs on
Sustainable Palm Oil’ pada European Palm Oil Conference #EPOC2018 bersama Amsterdam Declaration Support Unit, RSPO
Eropa dan Universitas Wageningen di Madrid.

Dodi Reza Alex Noerdin menyampaikan bahwa komitmen mencapai SDGs sudah dimulai di tingkat Kabupaten utamanya lewat
isu komoditas. Hanya tantangan terbesar saat ini adalah ketersediaan data dan peta yang tepat terutama terkait pekebun.
Padahal dengan adanya peta dan data, Kabupaten bisa lebih fokus pada pengembangan program yang tepat untuk
meningkatkan kapasitas pekebun dan mendorong intensifikasi
"Pengembangan komoditas strategis sawit di Indonesia akan dapat berkontribusi pada capaian Target Pembangunan
Berkelanjutan (SDGs) untuk Indonesia, dan ini sudah dimulai di Kabupaten Muba," ungkap Bupati Muba Dodi Reza Alex
Noerdin di sela menjadi salah satu panelis dalam EPOC 2018 di Madrid. Dikatakan, beberapa target untuk mewujudkan
pembangunan hijau berkelanjutan yang utama yakni dapat didorong capaiannya melalui sawit lestari adalah ketahanan
pangan, ketersediaan air bersih, pertumbuhan ekonomi dan ketenagakerjaan, dan menurunkan resiko ekspansi lahan dan
deforestasi.
"Salah satu contoh nyata adalah pencapaian Muba untuk mendapatkan dukungan dana replanting dari BPDP Sawit untuk
pekebun sawit khususnya swadaya. Proses ini berlangsung selama lebih dari dua tahun dan tidak akan bisa terjadi tanpa
data spasial & sosial ekonomi pekebun yang jelas. Data yang berhasil dikumpulkan adalah hasil kerjasama multipihak di
Kabupaten," jelas Dodi yang juga Ketua Umum Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL).
Dodi menambahkan, dengan fokus pada data dan peta, Kabupaten bisa lebih fokus pada pengembangan program yang
tepat untuk meningkatkan kapasitas pekebun dan mendorong intensifikasi. "Adanya peta dan data yang baik juga
memungkinkan kabupaten untuk melakukan monitoring dan penegakan hukum di sektor sawit secara efektif bekerjasama
dengan provinsi dan nasional - disini terlihat jelas bahwa penurunan tingkat deforestasi akan sulit tercapai tanpa peta dan
data yang baik," imbuhnya.
Pada kesempatan tersebut, turut hadir bersama Bupati Musi Banyuasin Dodi Reza Alex Noerdin menjadi panelis lain
diantaranya Menteri Industri Malaysia, Madam Theresa Kok Suh Sim, Menteri Perdagangan Republik Indonesia Enggartiasto
Lukita, dan Mantan Presiden Columbia, Alvaro Uribe Velez. Selain itu, Ketua EPOA, Frans Claassen, Sekretaris Jenderal Aliansi
Minyak Sawit Eropa, Margot Logman, dan Profesor Universitas Cagliari, Departemen Ilmu Biomedis, Sebastiano Banni.
Dodi juga menyampaikan, seperti yang diucapkan oleh Presiden Jokowi di World Economic Forum, Hanoi dan Pak Menteri
Perdagangan tadi pagi, kita semua perlu gotong-royong menjadi ‘The Avengers’ sawit lestari untuk membasmi ‘THANOS’
berupa perang dagang yang akhirnya akan merugikan kita semua, terutama 4 juta pekebun Indonesia, lebih dari 20.000
keluarga di Musi Banyuasin saja - investor paling besar di sektor sawit - yang mempertaruhkan seluruh asetnya untuk
mengembangkan sawit lestari.
Lanjutnya, Pemkab Musi Banyuasin percaya bahwa untuk menjawab tantangan ini, kabupaten tidak bisa bekerja sendiri -
karenanya Muba kerjasama dengan berbagai pihak dan mendirikan Lingkar Temu Kabupaten Lestari sebagai upaya
kolaborasi dengan Kabupaten lain. Muba percaya bahwa contoh baik ini akan dapat direplikasi oleh Kabupaten lainnya,
terutama melalui jaringan Lingkar Temu Kabupaten Lestari dan APKASI yang sudah dibentuk. "Dengan komitmen daerah,
maka SDGs dan berbagai kebijakan perbaikan tata kelola Indonesia seperti ISPO, moratorium sawit dan Satu Peta serta
komitmen swasta untuk lestari akan lebih mudah dicapai," tutupnya.
Kontak Media:
Oke Fifi Abriany; 0813-1163-7205; oke.fifi@kabupatenlestari.org
Sekretariat Lingkar Temu Kabupaten Lestari
TENTANG LINGKAR TEMU KABUPATEN LESTARI (LTKL)
LTKL dipelopori oleh perwakilan delapan kabupaten dari enam provinsi, yaitu Musi Banyuasin, Rokan Hulu, Siak, Batanghari,
Labuan Batu Utara, Sintang, Sanggau dan Sigi. Pada bulan Juli 2017 lalu, para perwakilan kabupaten tersebut bekerja sama
dengan APKASI dan jejaring mitra pembangunan mendeklarasikan komitmen mengembangkan forum kemitraan dengan
prinsip gotong royong, transparansi, akuntabilitas, dan partisipasi publik, untuk mendorong implementasi visi pembangunan
yang menyeimbangkan aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan, dan fokus pada tata kelola lahan sesuai dengan SDGs agar
dapat berkontribusi pada target penurunan emisi Indonesia dengan menjalankan prinsip transparansi, akuntabilitas, dan
partisipasi publik
Informasi lebih lengkap : www.kabupatenlestari.org
Facebook : Lingkar Temu Kabupaten Lestari
Instagram : @kabupatenlestari
Twitter : Kab_Lestari