Berkah Penganyam Asal Sintang di Hari Raya

Berkah Penganyam Asal Sintang di Hari Raya

Supiani, Aniah, Marina, dan Ita yang berasal dari Desa Kelansam, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, sampai di kota dengan senyum sumringah. Para penganyam ini baru saja mendapatkan uang dari tas anyam yang mereka hasilkan sebagai wadah hantaran hari raya.

Sejak bulan Maret lalu, Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL) bekerja sama dengan para perempuan penganyam yang berada di bawah naungan Jasa Menenun Mandiri (JMM) dan Disperindagkop Kabupaten Sintang, membuka pemesanan hantaran alias hampers yang diwadahi tas anyam. Keempat perempuan yang menganyam tas kemasan ramah lingkungan cantik ini merupakan sebagian perempuan yang telah mendapatkan pelatihan tata niaga UMKM Lestari dari Krealogi agar kelompok mampu melayani pesanan jumlah besar dengan baik. Untuk pertama kalinya sejak pandemi COVID-19 melanda, hasil karya mereka dibeli dalam jumlah yang cukup banyak.

Supiani dan Marina tiba di pelabuhan untuk mengantar tas anyam untuk dijadikan wadah hantaran hari raya

Supiani dan Marina tiba di pelabuhan untuk mengantar tas anyam untuk dijadikan wadah hantaran hari raya

Perjuangan mereka dalam mendapatkan pembeli bukanlah perjalanan yang mudah. Untuk mengantarkan tas anyam buatannya, keempat perempuan tersebut harus menempuh perjalanan selama 2 jam melalui jalur sungai. Bahkan, perjuangan mereka sudah dimulai sejak mencari bahan baku tas anyam, yakni bambu dan daun senggang (sejenis pandan, tikar).

“Dua puluh tahun yang lalu saat saya mulai menganyam, dengan mudah saya mendapatkan material di hutan. Namun sekarang hutan semakin sempit, sehingga bahan anyam lebih sulit didapat. Kami harus berjalan lebih jauh,” jelas Aniah, salah satu perempuan penganyam.

Pelatihan UMKM Lestari di Kabupaten Sintang, April 2021 yang lalu

Hingga kini mereka mempertahankan bahan-bahan alami dalam proses pembuatan tas anyam seperti getah biji buah rotan (jerenang dalam bahasa lokal) untuk warna merah, arang dari kulit getah buah pinang muda atau dicampur dengan buah terong pipit untuk warna hitam. Dengan menggunakan bahan-bahan alami tersebut, kehidupan mereka sangat bergantung pada kelestarian dan keberlanjutan hutan.

Setelah mengantar tas anyamnya, Supiani, Aniah, Marina, dan Ita pamit untuk berbelanja. Uang yang didapat segera dibelanjakan untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari. Sesaat sebelum pulang, mereka menghadiahi diri mereka masing-masing sepotong kebaya. Meski tidak merayakan Idul Fitri, mereka dapat merasakan kemeriahan hari raya berkat pesanan hampers dengan kemasan anyaman ramah lingkungan. 

 *****

Mau ikut serta dalam melestarikan hutan dan alam? Yuk beli produk lokal yang baik dan berkelanjutan seperti yang dibuat oleh para perempuan penganyam. Silakan akses https://www.tokopedia.com/geraikabupatenlestari untuk memesan produk lestari khas UMKM lokal di kabupaten anggota LTKL. 

Salah satu paket hantaran kerjasama LTKL dengan UMKM yang berasal dari berbagai kabupaten anggota